Tuesday, 15 March 2016

VANAPATTHA-SUTTA



VANAPATTHA-SUTTA
HUTAN BELANTARA

Disampaikan  : Sang Buddha.
Kepada           : Para bhikkhu.
Tempat           : Di Sāvatthῑ.
Inti sutta            : Empat dasar pertimbangan para bhikkhu menetap di hutan.
Latar belakang : Keinginan Sang Buddha sendiri untuk mengajarkan kepada para bhikkhu khotbah tentang hutan belantara.
Pembahasan
1.      Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar.  Ketika tinggal di sana kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, pikirannya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, makanan, tempat istirahat, obat-obatan guna menyembuhkan penyakit juga sulit diperoleh.  Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya meninggalkan hutan itu malam itu juga atau hari itu juga; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
2.      'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar.  Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh tidak menjadi teguh, pikirannya yang belum terkonsentrasi tidak terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan tidak disingkirkan, kebebasan tertinggi yang belum dicapai tidak dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh.  Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan berumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya tak memperoleh kemajuan (dalam dhamma) disini. Ia selayaknya meninggalkan hutan itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya terus tinggal di sana.'
3.      'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, pikirannya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, namun kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit sulit diperoleh.  Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini, tetapi ia patut merenung: "Saya pergi dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan kebhikkhuan tidak untuk mendapatkan jubah, dana makanan, tempat istirahat dan kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit, namun saya memperoleh kemajuan di sini". Ia selayaknya terus tinggal di hutan belukar itu setelah mempertimbangkannya dengan cermat; ia tak selayaknya meninggalkan tempat itu.
4.      'Para bhikkhu, seorang bhikkhu tinggal dalam hutan belukar. Ketika tinggal di sana, kesadarannya yang belum teguh menjadi teguh, pikirannya yang belum terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda batinnya yang semula belum disingkirkan telah dikikis, kebebasan tertinggi yang belum dicapai telah dicapai, juga kebutuhan untuk hidup seperti jubah, dana makanan, tempat istirahat, kebutuhan obat guna menyembuhkan penyakit mudah diperoleh.  Bhikkhu tersebut harus memperhatikan hal ini. Ia selayaknya terus tinggal di hutan itu; ia tak selayaknya meninggalkan tempat tersebut.

Kesimpulan
1.      Tidak ada kemajuan dan sulit memperoleh benda-benda kebutuhan = pergi;
2.      Tidak ada kemajuan dan mudah memperoleh benda-benda kebutuhan = pergi;
3.      Ada kemajuan dan sulit memperoleh benda- benda kebutuhan = tinggal;
4.      Ada kemajuan dan mudah memperoleh benda-benda kebutuhan = tinggal;
5.      Pola yang sama diatas dapat diterapkan pada desa, pemukiman, kota, dan negeri.

Sumber:
Bhikkhu Nanamoli & Bhikku Bodhi . 1995 Majjhima Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press

No comments:

Post a Comment

setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?