Tuesday, 15 March 2016

Sigālovada Sutta


Sigālovada Sutta

Latar belakang Sigālaka Sutta : Pada pagi hari Sang Bhagavā melihat Sigālaka putra seorang perumah tangga sedang menyembah, dengan pakaian dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur, selatan, barat, dan utara ke bawah dan ke atas. Tempat terjadinya sutta Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di tempat memberi makan tupai, di Hutan Bambu. Empat cacat tingkah laku yang harus dihindari : Pertama adalah membunuh, ke dua adalah mengambil yang tidak diberikan, ke tiga adalah pelanggaran seksual, ke empat adalah berbohong. Empat penyebab kejahatan yang harus dihindari : Kejahatan yang muncul dari keterikatan (nafsu keinginan) sebagai contoh, karena nafsu keinginan terhadap kesenangan yang salah, seseorang dapat melakukan perbuatan asusila. Kejahatan yang muncul dari kebencian (kemarahan) sebagai contoh, karena marah yang tidak terkendalikan, seseorang dapat melukai orang lain (membunuh). Kejahatan yang muncul dari kebodohan sebagai contoh, karena tidak mengetahui bahwa merupakan suatu kesalahan seseorang membeli barang curian, bajakan, seseorang dapat mengambil sesuatu yang tidak diberikan. Kejahatan yang muncul dari ketakutan sebagai contoh, karena takut bahwa suatu kesalahan atau perbuatan jahat diketahui, seseorang dapat berbohong. Orang yang bermoral baik tidak akan melakukan kejahatan dari keterikatan , kebencian, kebodohan, ketakutan. Enam saluran pemborosan yang harus dihindari pertama ketagihan pada minuman keras dan obat-obatan yang menyebabkan kelambanan, ke dua menghabiskan harta dengan berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak tepat, ke tiga mengunjungi tempat hiburan, ke empat ketagihan berjudi, ke lima bergaul dengan teman-teman jahat, ke enam kemalasan yang menjadi kebiasaan.
Enam bahaya yang terdapat pada ketagihan minuman keras:
1.      Menghabiskan uang secara berlebihan dan kehilangan harta kekayaan dengan seketika.
2.      Meningkatkan pertengkaran dan permusuhan.
3.      Mudah terserang penyakit.
4.      Reputasi yang buruk
5.      Membuka rahasia seseorang.
6.      Menurunkan kecerdasan.
Enam bahaya menghabiskan kekayaan dengan berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak tepat:
1.      Mudah terkena bahaya.
2.      Istri dan anakanaknya dalam bahaya.
3.      Rumah tidak terjaga dan tidak aman.
4.      Dituduh melakukan kejahatan.
5.      Bisa menjadi korban laporan palsu.
6.      Bertemu dengan banyak kesulitan.
Enam bahaya mengunjungi tempat-tempat hiburan:
1.      Seseorang selalu berpikir di manakah tariannya?
2.      Seseorang selalu berpikir di manakah nyanyiannya?
3.      Seseorang selalu berpikir di manakah mereka memainkan musik?
4.      Seseorang selalu berpikir di manakah mereka bercerita?
5.      Seseorang selalu berpikir di manakah tepuk tangannya?
6.      Seseorang selalu berpikir di manakah genderangnya?
Enam bahaya ketagihan berjudi:
1.      Pemenangnya akan dimusuhi.
2.      Yang kalah meratapi kekalahannya.
3.      Ia menghilangkan kekayaannya yang ada sekarang.
4.      Kata-katanya tidak dipercaya di dalam suatu perkumpulan.
5.      Ia dipandang rendah oleh teman-teman dan rekan-rekannya.
6.      Ia tidak dipilih sebagai calon yang sesuai dalam pernikahan.
Enam bahaya bergaul dengan teman-teman jahat:
1.      Dapat menjadi penjudi.
2.      Dapat menjadi orang rakus.
3.      Dapat menjadi pemabuk.
4.      Dapat menjadi penipu.
5.      Dapat menjadi seseorang yang memanfaatkan orang lain.
6.      Dapat menjadi penjahat yang kejam dan pengganggu.

Enam bahaya kemalasan yang menjadi kebiasaan, berpikir :
1.      Terlalu dingin ia tidak bekerja.
2.      Terlalu panas ia tidak bekerja.
3.      Terlalu pagi ia tidak bekerja.
4.      Terlalu larut ia tidak bekerja.
5.      Aku terlalu lapar tidak bekerja.
6.      Aku terlalu kenyang tidak bekerja.
Hubungan timbal balik dalam masyarakat. Buddha menjelaskan bahwa penghormatan terhadap enam arah dilakukan dengan memandang enam arah sebagai pelaksanaan kewajiban timbal balik kepada:
a) Ayah dan ibu sebagai arah Timur.
b) Guru sebagai arah Selatan.
c) Istri dan anak sebagai arah Barat.
d) Sahabat sebagai arah Utara.
e) Pelayan dan pembantu sebagai arah bawah.
f) Para Pertapa dan Brahmana sebagai arah atas.
Kewajiban timbal balik terhadap masyarakat
No.
Kewajiban anggota keluarga sebagai masyarakat
Contoh hak masyarakat sebagai pelaksanaan kewajiban anggota keluarga
01.

02.

03.


04.

05.
Bermurah hati
Contoh: menolong
Ramah tamah
Contoh: menyapa, memberi salam
Berbuat baik
Contoh: mengikuti kegiatan di masyarakat, menghargai perbedaan, bergotong royong.
Menjamu
Contoh : berbagi, mengundang makan
Menepati janji
Contoh : menghadiri pertemuan, ikut siskamling/rapat, menepati janji dengan tetangga.
v  Contoh : ditolong
v  Contoh : dihormati, dihargai
v  Contoh : diperlakukan dengan baik, dapat bekerja sama
v  Contoh : diundang dalam acara tertentu
v  Contoh : tidak dibohongi ketika memiliki janji


Kesimpulan
setiap orang dalam masyarakat pasti memiliki tugas dan kewajibannya masing-masing pada saat berhubungan dengan fihak lain. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, ada hal yang harus dipersiapkan yaitu pengendalian diri kita. Tanpa adanya pengendalian dan penguasaan diri sendiri, maka melaksanakan tugas dan kewajiban seperti yang dinasehatkan oleh Sang Buddha tersebut menjadi hal yang mustahil. Dalam perkembangannya, pengendalian diri ini tidaklah mudah dilakukan.  Manusia cenderung memiliki keakuan yang tinggi. Apabila keakuan tidak dapat dikuasai, maka ia tidak akan merasa lebih rendah daripada orang lain. Dengan demikian, ia tidak merasa memiliki kewajiban yang harus dilakukan kepada orang lain. Ia hanya merasa memiliki hak bahwa orang lain hendaknya melakukan kewajiban untuknya. Padahal isi Sutta Sigālaka kita seharusnya menyadari bahwa hak dan kewajiban berlaku untuk semua fihak. Bagaikan air yang selalu dapat menyesuaikan bentuk dimanapun air ditempatkan dalam wadah meskipun wadahnya berbeda namun tidak kehilangan kualitas pokoknya sebagai air sesungguhnya seperti sifat air tersebut, seseorang dalam kehidupan sehari-hari hendaknya selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa mengubah jati diri.

No comments:

Post a Comment

setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?