1. Aditta Sutta
Pada suatu
ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Gaya, di tempat tinggal pemimpin Gayā
bersama dengan seribu bhikkhu. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu
sebagai berikut: “Para bhikkhu, segalanya terbakar. Dan apakah, para bhikkhu,
segalanya yang terbakar itu? Mata terbakar, bentuk-bentuk terbakar,
kesadaran-mata terbakar, kontak-mata terbakar, dan perasaan apa pun yang muncul
dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau
bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh
apakah? Terbakar oleh api nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan;
terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan,
kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan, Aku katakan. “Telinga terbakar
Pikiran terbakar dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai
kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga
bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh apakah? Terbakar oleh api
nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan; terbakar oleh kelahiran,
penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan
keputusasaan, Aku katakan. “Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang
terlatih mengalami kejijikan terhadap mata, terhadap bentuk-bentuk, terhadap
kesadaran-mata, terhadap kontak-mata, terhadap perasaan apa pun yang muncul
dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau
bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan; mengalami kejijikan terhadap telinga
terhadap pikiran terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran
sebagai kondisi Mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan maka
[batinnya] terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan:
‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah
dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi
makhluk ini.’ Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Senang, para
bhikkhu itu gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā. Dan ketika khotbah ini
disampaikan, batin seribu bhikkhu itu terbebaskan dari noda-noda melalui
ketidak melekatan.
2. Punna Sutta
Punna, ada
bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang disukai, indah menyenangkan,
nikmat, memikat indria, menggoda. Jika seorang bhikkhu menikmatinya,
menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya, maka kenikmatan muncul dalam
dirinya. Dengan munculnya kenikmatan, Puṇṇa, maka muncul pula penderitaan, Aku
katakan. Ada, Puṇna, suara-suara yang dikenali oleh telinga fenomena-fenomena
pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang disukai, indah menyenangkan, nikmat,
memikat indria, menggoda. Jika seorang bhikkhu menikmatinya, menyambutnya, dan
terus-menerus menggenggamnya, maka kenikmatan muncul dalam dirinya. Dengan
munculnya kenikmatan, Puṇṇa, maka muncul pula penderitaan, Aku katakan.“Puṇṇa,
ada bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata fenomena-fenomena pikiran yang dikenali
oleh pikiran, yang disukai, indah menyenangkan, nikmat, memikat indria,
menggoda. Jika seorang bhikkhu tidak menikmatinya, tidak menyambutnya, dan
tidak terusmenerus menggenggamnya, maka kenikmatan lenyap dalam dirinya. Dengan
lenyapnya kenikmatan, Puṇṇa, maka lenyap pula penderitaan, Aku katakan. “Sekarang
engkau telah menerima nasihat singkat dariKu, Puṇṇa, di negeri manakah engkau
akan menetap?”“Ada, Yang Mulia, negeri bernama Sunāparanta. Aku akan menetap di
sana.”“Puṇṇa, penduduk Sunāparanta kejam dan kasar. Jika mereka mencela dan
memakimu, apa pendapatmu mengenai hal itu?”“Yang Mulia, jika penduduk
Sunāparanta mencela dan memakiku, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta
ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak memukulku dengan tinju.’
Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang
Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta memukulmu dengan tinju, apa
pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta memukulku
dengan tinju, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh
baik, dalam hal bahwa mereka tidak melemparku dengan tanah.’ Maka aku akan
berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi,
Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta melemparmu dengan tanah, apa pendapatmu
mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta melemparku dengan
tanah, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik,
dalam hal bahwa mereka tidak memukulku dengan kayu.’ Maka aku akan berpikir
demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa,
jika penduduk Sunāparanta memukulmu dengan kayu, apa pendapatmu mengenai hal
itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta memukulku dengan kayu, maka aku
akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa
mereka tidak menikamku dengan pisau.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā;
maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk
Sunāparanta menikammu dengan pisau, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang
Mulia, jika penduduk Sunāparanta menikamku dengan pisau, maka aku akan
berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka
tidak membunuhku dengan pisau tajam.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā;
maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk
Sunāparanta membunuhmu dengan pisau tajam, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang
Mulia, jika penduduk Sunāparanta membunuhku dengan pisau tajam, maka aku akan
berpikir: ‘Ada para siswa Sang Bhagavā, yang karena muak, malu, dan jijik akan
jasmani dan kehidupannya, mencari pembunuh. Tetapi aku mendapatkan pembunuh
tanpa mencari.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan
berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Bagus, bagus, Puṇṇa! Dengan memiliki
pengendalian-diri dan kedamaian demikian, engkau akan mampu menetap di negeri
Sunāparanta.
3. Pathama Migajala Sutta
Sang Buddha memberikan definisi
tentang seorang bhikkhu yang hidup dalam kesendirian. Bila seorang bhikkhu
tidak waspada sehingga merasakan kesenangan di dalam enam obyek indera dan
secara salah menganggapnya sebagai “ini milikku”, “ini aku”, “ini diriku”, maka
nafsu keinginan terhadap mereka itu muncul di dalam dirinya dan dia menjadi
melekat pada belenggu. Bhikkhu seperti itu dimana nafsu keinginan telah muncul,
dianggap sebagai orang yang hidup dengan teman, sekalipun dia hidup sendirian
di dalam hutan jauh dari kota dan desa. Tetapi, bila dia dengan waspada
menerima sifat sejati enam landasan indera dan enam obyek indera dia tidak akan
berpegang secara salah padanya sebagai “ini milikku”, “ini aku”, “ini diriku”
dan tidak muncul nafsu keinginan terhadapnya. Bhikkhu seperti itu, dimana tidak
muncul nafsu keinginan, dikatakan hidup sendiri tanpa teman sekalipun dia hidup
diantara orang banyak di kota atau di desa.
4. Pathama Darukkhandhopama Sutta
Sang
Buddha menggunakan perumpamaan batang kayu yang terapung di sungai. Beliau
mengatakan bahwa jika batang kayu itu tidak terhenti di dua tepian, tidak
tenggelam di tengah sungai, tidak diselamatkan dan ditaruh di tepi oleh
seseorang, tidak diambil oleh manusia atau dewa, tidak tersedot ke dalam
pusaran air, dan jika tidak hancur di sepanjang jalan, maka kayu itu akan di
bawa arus sampai tiba di tujuannya, yaitu samudra. Di dalam perumpamaan ini,
tepian sungai yang dekat berarti enam landasan indera internal, tepian sungai
yang jauh berarti enam obyek indera eksternal, tenggelam di tengah sungai
berarti terbenam di dalam kenikmatan indera, diselamatkan dan ditaruh di tepi
berarti terhalang oleh kesombongannya sendiri, diambil oleh manusia berarti
melakukan pelayanan atau pekerjaan untuk manusia, diambil oleh dewa, berarti
mempraktekkan kehidupan suci dengan alam dewa sebagai tujuannya tersedot ke
dalam pusaran air berarti bergelimang di dalam kenikmatan indera, menjadi
hancur di sepanjang jalan berarti menjadi rusak, tidak bermoral, tak peduli
pada peraturan disiplin. Jika seorang bhikkhu dapat mengendalikan dirinya
sehingga bebas dari halangan-halanagan ini, dia akan dibawa oleh arus pandangan
benar sampai tiba di tujuannya Nibbana.
5. Dukkarapanha Sutta
Menyatakan
bahwa di dalam ajaran Sang Buddha, pertama, memang sulit untuk menjadi anggota
sangha sebagai calon bhikkhu dan sebagai bhikkhu. Kedua, sulit untuk bahagia
dan nyaman di dalam sangha dengan peraturan disiplinnya. Ketiga, sekalipun jika
orang bertahan pada jalan itu dan tetap berada di dalam sangha, sulit baginya
untuk mempraktekkan meditasi konsentrasi dan meditasi vipassana untuk mencapai
tingkat-tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bila sepenuhnya tertopang oleh
parami (kesempurnaan), seorang bhikkhu yang mendapat instruksi di pagi hari dan
mulai mempraktekkan meditasi di pagi hari mungkin dapat sepenuhnya terbebas di
malam hari, jika dia mendapat instruksi di malam hari dan mulai mempraktekkan
meditasi di malam hari, dia mungkin dapat sepenuhnya terbebas di pagi hari.
6. Sankhadhamma Sutta
Sang Buddha menunjukkan
pandangan-pandangan salah yang dipegang oleh Nigantha Nataputta mengenai kamma
dan akibat yang dihasilkannya. Menurut pemimpin desa Asibandhakaputta, Gurunya
yaitu Nigantha Nataputta mengajarkan bahwa setiap orang yang menjalankan
perbuatan jahat seperi membunuh, berbohong dll. Pastilan terlahir di alam
menderita. Tindakan apapun yang lebih sering dilakukan, tindakan itu cenderung
menentukan nasib makhluk itu. Menunjukkan kesalahan itu di dalam dua pernyataan
yang saling berlawanan. Andaikan saja seseorang tidak sering melakukan
perbuatan jahat, misalnya membunuh, tetapi dia lebih sering melakukan perbuatan
lain. Maka menurut Nigantha Nataputta, orang ini tidak akan mengalami keadaan
yang menderita karena perbuatan jahat membunuh itu tadi. Kemudian Sang Buddha
menjelaskan bahwa hanya tindakan-tindakan yang amat bengis seperti misalnya
membunuh orang tua sendiri, memecah belah sangha dll. Yang akan membawa akibat
langsung terlahir di alam penderitaan. Perbuatan-perbuatan salah lain, baik
fisik, ucapan maupun mental, tidak dapat dianggap pasti akan membawa pada nasib
yang tidak bahagia. Orang tidak boleh hanya merasakan penyesalan dan rasa
bersalah terhadap perbuatan jahatnya sendiri, melainkan dia harus mengenali
bahwa perbuatannya itu jahat, dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan
seperti itu lagi, dan kemudian diikuti dengan praktek konsentrasi dan meditasi
vipassana.
7. Bhadraka Sutta
Sang Buddha menerangkan asal mula
penderitaan dengan memberikan contoh-contoh yang jelas. Kepala desa yang bernama
bhadraka ingin mengetahui penyebab penderitaan yang menimpa umat manusia.
Sebagai jawabannya Sang Buddha menyuruhnya memikirkan putranya dan membayangkan
bahwa putranya ini menemui bencana yang tak terduga, atau ditangkap atas
perintah raja atau dijatuhi hukuman yang berat. Bhadraka membayangkan sebgai
mana diperintahkan dan mendapati bahwa buah-buah piker demikian itu menimbulkan
kesedihan, ratap tangis, penderitaan, rasa tertekan, kesusahan dan
keputus-asaan didalam dirinya. Namun ketika dia membayangkan orang yang tak
dikenal pada keadaan seperti itu, menghadapi kesulitan seperti itu, dia
mendapati bahwa dia sama sekali tidak terbebani penderitaan mental apapun. Maka
bhadraka menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa perbedaan didalam reaksi
mentalnya terhadap dua situasi itu terletak pada kenyataan bahwa dia mencintai
putranya dengan cinta kasih orang tua dan karna dia amat menyayanginya, sementara
tidak ada perasaan seperti itu terhadap orang yang tidak dikenal. Sang Buddha
kemudian bertanya apakah ada cinta, nafsu atau keinginan yang muncul didalam
dirinya sebelum dia bertemu atau melihat atau mendengar tentang wanita yang
menjadi istrinya. Bhadraka menjawab bahwa baru ketika dia bertemu, melihat dan
mendengar tentang wanita itulah maka dia mengembangkan nafsu keinginan dan
kemelekatan terhadap istrinya. Ketika Sang Buddha bertanya lagi apakah dia akan
menderita karna kesedihan, ratap tangis, penderitaan, rasa tertekan, kesusahan,
keputus-asaan, bila ada sesuatu musibah menimpa istrinya, dia mengaku bahwa dia
akan menderita lebih dari pada hanya bersedih dia mungkin mati karena
penderitaan yang amat kuat. Maka Sang Buddha pun menunjukkan bahwa akar
penyebab penderitaan di dunia ini adalah keserakahan, nafsu keinginan, nafsu
kenikmatan, yang melahap umat manusia. Sudah demikian halnya di masa lampau,
demikian halnya dimasa kini, dan akan demikian halnya dimasa mendatang.
Sumber:
Bhikku Bodhi . 2010 Samyutta Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press
No comments:
Post a Comment
setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?