Dua
jenis Vipassana Bhavana
1.
Samatha Pubbangama Vipassana, yaitu meditasi pandangan terang yang diawali
dengan praktik Samatha.
Secara
teknik, misalnya dengan melakukan Metta Bhavana terlebih dahulu sebelum praktik
Vipassana.
2.
Suddha Vipassana, murni Vipassana Bhavana tanpa diawali dengan
Samatha Bhavana.
Syarat-syarat
Vipassana Bhavana
Faktor
interen
Fisik
Seorang
meditator harus mempersiapkan fisiknya dengan sebaik mungkin. Hal ini bisa
dilakukan dengan menjaga kesehatan dan membuat kondisi badannya selalu
terkondisi untuk melaksanakan meditasi.
Memiliki
Kammassakatha samadhiti
Kammassakatha
samadhiti yaitu penerimaan dan
pemahaman yang benar mengenai perbuatan dan akibatnya. Dengan demikian seorang
meditator akan selalu menjaga kemurnian silanya, yang dilalukan dengan
melaksanakan samma kammanta (perbuatan benar), samma vaca (ucapan
benar), dan samma ajiva (mata pencaharian benar) yang ada dalam Jalan
Mulia Berunsur Delapan. Ketiganya merupakan unsur sila yang menjadi landasan
dari Samadhi dan Panna.
Faktor
eksteren
1. Guru
Seorang
meditator pemula sebaiknya memiliki seorang guru meditasi yang berpengalaman.
Guru meditasi sering disebut sebagai kalyana mitta bagi seorang
meditator. Ibarat seseorang yang tersesat, guru meditasi dapat diumpamakan
sebagi peta.
2. Tempat
Untuk
melaksanakan vipassanan bhavana, hindari tempat yang ramai, penuh dengan
kesibukan sehari-hari. Tempat yang cocok adalah tempat yang tenang dan
mendukung seorang meditator untuk berkonsentrasi.
3. Waktu
Sesungguhnya
setiap itu baik umtuk bermeditasi. Namun waktu yang terbaik dan dianggap tepat
untuk meditasi adalah pagi hari antara pukul 03.00 sampai dengan 07.00, atau
sore hari antara pukul 17.00 sampai dengan 22.00.
4. Sikap
Seorang
meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi, yaitu duduk,
berbaring, berjalan, dan berdiri. Ambilah posisi yang enak, rileks, dan nyaman.
Teknik
pelaksanaan Vipassana Bhavana
Obyek
1. Kayanupassana
satipatthanam, perhatian penuh
pada setiap kemunculan pergerakan dan sikap serta posisi tubuh (kumpulan
unsur-unsur fisik). Meditator menyadari dan memperhatikan setiap gerak-gerik
tubuh yang dilakukan pada saat meditasi. Misalnya meditator menggunakan meditasi
duduk, pada saat pantat menyentuh lantai maka meditator menyadarinya dan mencatat
dalam hati sentuh-sentuh-sentuh-duduk-duduk
2. Vedananupassana
satipatthanam, perhatian penuh pada
setiap kemunculan perasaan. Meditator menyadari dan memperhatikan setiap
perasaan atau sensasi yang muncul pada saat meditasi. Misalnya lelah, sakit,
otot kaku, gatal, dan kram.
3. Cittanupassana
satipatthanam, perhatian penuh pada
setiap kemunculan pikiran atau kesan.
Meditator
menyadari dan memperhatikan setiap kesan yang muncul di pikiran pada saat
meditasi. Misalnya bosan, malas, mengantuk, melamun, imajinasi.
4. Dhammanupassana
satipatthanam, perhatian penuh pada
setiap kemunculan dhamma (karakteristik dari kondisi-kondisi sifat fenomena
alamiah).
Meditator
menyadari dan memperhatiakan apapun yang muncul yang tidak berkenaan dengan
gerakan, sensasi, dan kesan. Misalnya ketika meditator menfokuskan perhatian
dan kewaspadaannya pada rasa sakit yang muncul pada saat meditasi maka disadari
bahwa rasa sakit itu adalah dukkha, kemudian rasa sakit yang dirasakan
secara perlahan-lahan menjadi lenyap maka disadari bahwa hal itu adalah anicca.
Meditator juga menyadari bahwa tubuhnya hanya perpaduan dari berbagai unsur
saja, tidak ”aku” maka hal ini disadari sebagai anatta
Sikap
Seorang
meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi (Iriyapatha
Pabbam)
posisi
berbaring (lying meditation)
Ada
dua posisi yaitu Sang Buddha dan dengan posisi rebahan dengan terlentang.
Posisi
berdiri (standing meditation)
Seorang
moderator berdiri dengan posisi rileks. Seorang meditator memperhatikan
posisinya dengan mencatat dalam hati berdiri (standing)-berdiri
(standing)-berdiri (standing). Namun jika ada fenomena lain yang muncul,
maka fenomena tersebut juga disadari.
Posisi berjalan (walking meditation)
-
tahap 1
merupakan
cara yang paling sederhana, dengan memperhatikan langkah gerak kaki yaitu
mencatat dalam hati kanan katika kaki kanan melangkah kiri ketika kaki kiri
melangkah demikian seterusnya.
-
tahap 2
meditator
memperhatikan gerak kaki saat mengangkat dan menginjak tanah dan mencatat dalam
hati angkat injak demikian seterusnya.
- tahap 3
meditator
memperhatikan tiga gerakan kaki dan mencatat dalam hati angkat gerak injak
demikian seterusnya.
-
tahap 4
meditator
memperhatikan empat dan mencatat dalam hati naik angkat gerak injak demikian
seterusnya
-
tahap 5
Meditator
memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan
demikian seterusnya.
- tahap 6
Meditator
memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan
demikian seterusnya.
v
Posisi duduk (sitting meditation)
Ada
beberapa posisi duduk dengan kaki bersilang yang dapat dipilih oleh seorang
meditator:
1) Sikap teratai penuh seperti yang tergambar pada tulisan buddha atau buddha
rupang.
2)
Dengan kaki yang satu diletakan di belakang kaki yang lain atau menyilang yang
lain, sementara kakai yang ditekuk dipisah satu sama lain.
3) Duduk pada betis dengan paha dan lutut ditekuk bersama-sama searah, seperti
sekap duduk tradisi wanita Myanmar, ” disebut duduk dengan kaki setengah
silang”.
Seorang
meditator memperhatikan gerakan nafas di perut, dengan mencatat dalam hati kembang
(rising)-kempis (falling)-kembang-kempis demikian seterusnya. Namun jika
ada fenomen lain yang muncul, misalnya rasa sakit, maka fenomena tersebut juga
disadari.
3.
Pancabala
Pancabala
atau lima kekuatan dapat diibaratkan sebagai ”senjata” bagi meditator untuk
sukses dalam melaksanakan meditasi.
- Sati, adalah perhatian murni.
Meditator
mengamati semua fenomena yang timbul, brproses, kemudian lenyap pada saat
meditasi apa adanya.
Dalam
Maha Satipatthana Sutta dijelaskan bahwa ”bagaimanapun tubuh ini ditaruh,
demikianlah dia memahaminya (yatha yatha va panassa kayo panihito hoti tatha
tatha mam pajanati)”.
- Samadhi, adalah konsentrasi.
Meditator
selalu mengarahkan pikiran pada obyek. Semakin dalam samadhi maka pikiran
cenderung menjadi lebih tenang. Karena pikiran lebih tenang,maka meditator
merasa lebih santai dan berakibat timbulnya rasa kantuk. Oleh karena itu
samadhi harus diseimbangkan dengan memperkuat viriya. Tetapi viriya tidak boleh
lebih kuat dari samadhi, karena bisa menyebabkan meditator menjadi
gelisah
- Viriya, dalah semangat, usaha.
Viriya
muncul bila meditator memiliki tekad berdasarkan motivasi yang benar. Viriya
yang terpelihara membuat meditator mampu bertahan menghadapi semua proses yang
terjadi pada batin atau jasmani yang timbul dalam meditasi Vipassana.
- Saddha, adalah keyakinan.
Saddha
adalah motivator yang mengobarkan tekad dalam meditator untuk bejuang menghadapi
semua perintah dalam diri sendiri. Bila digunakan dengan bijaksana dapat
membawa pada tercapainya tujuan.
Kesimpulan:
Dengan
mengikuti teknik-teknik vippasana maka kita akan memperoleh hasil yang
memuaskan dari melaksanakan meditasi vippasaana tersebut.
Referensi:
-
Candra, Fabian. 2007. Dhammacakka edisi 47: Memahami Lebih Jauh Meditasi
Vippasana Dengan Obyek Utama Kembang Kempis Perut, Hal 96. Jakarta: Yayasan
Jakarta Dhammacakka
Jaya
-
Diputera oka. 2001. Meditasi 1. Jakarta: Vajra Dharma Nusantara
-
Maha Thero, Ven Weragoda Sarada. 2005. Maha Satipatthana Sutta. Klaten:
Wisma Sambodhi
-
Sayadaw, Y.A Mahasi. 2003. Khotbah Vippasana. Jakarta: Lembaga Satipatthana
Indonesia
No comments:
Post a Comment
setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?