Tuesday, 27 November 2018

Dua jenis Vipassana Bhavana


Dua jenis Vipassana Bhavana
1. Samatha Pubbangama Vipassana, yaitu meditasi pandangan terang yang diawali dengan   praktik Samatha.
Secara teknik, misalnya dengan melakukan Metta Bhavana terlebih dahulu sebelum praktik Vipassana.
2. Suddha Vipassana, murni Vipassana Bhavana tanpa diawali dengan  Samatha  Bhavana.

Syarat-syarat Vipassana Bhavana

Faktor interen
Fisik
Seorang meditator harus mempersiapkan fisiknya dengan sebaik mungkin. Hal ini bisa dilakukan dengan menjaga kesehatan dan membuat kondisi badannya selalu terkondisi untuk melaksanakan meditasi.
Memiliki Kammassakatha samadhiti
Kammassakatha samadhiti yaitu penerimaan dan pemahaman yang benar mengenai perbuatan dan akibatnya. Dengan demikian seorang meditator akan selalu menjaga kemurnian silanya, yang dilalukan dengan melaksanakan samma kammanta (perbuatan benar), samma vaca (ucapan benar), dan samma ajiva (mata pencaharian benar) yang ada dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketiganya merupakan unsur sila yang menjadi landasan dari Samadhi dan Panna.


Faktor eksteren
1. Guru
Seorang meditator pemula sebaiknya memiliki seorang guru meditasi yang berpengalaman. Guru meditasi sering disebut sebagai kalyana mitta bagi seorang meditator. Ibarat seseorang yang tersesat, guru meditasi dapat diumpamakan sebagi peta.
2. Tempat
Untuk melaksanakan vipassanan bhavana, hindari tempat yang ramai, penuh dengan kesibukan sehari-hari. Tempat yang cocok adalah tempat yang tenang dan mendukung seorang meditator untuk berkonsentrasi.
3. Waktu
Sesungguhnya setiap itu baik umtuk bermeditasi. Namun waktu yang terbaik dan dianggap tepat untuk meditasi adalah pagi hari antara pukul 03.00 sampai dengan 07.00, atau sore hari antara pukul 17.00 sampai dengan 22.00.
4. Sikap
Seorang meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi, yaitu duduk, berbaring, berjalan, dan berdiri. Ambilah posisi yang enak, rileks, dan nyaman.

Teknik pelaksanaan Vipassana Bhavana

Obyek
1. Kayanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan pergerakan dan sikap serta posisi tubuh (kumpulan unsur-unsur fisik). Meditator menyadari dan memperhatikan setiap gerak-gerik tubuh yang dilakukan pada saat meditasi. Misalnya meditator menggunakan meditasi duduk, pada saat pantat menyentuh lantai maka meditator menyadarinya dan mencatat dalam hati sentuh-sentuh-sentuh-duduk-duduk
2. Vedananupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan perasaan. Meditator menyadari dan memperhatikan setiap perasaan atau sensasi yang muncul pada saat meditasi. Misalnya lelah, sakit, otot kaku, gatal, dan kram.
3. Cittanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan pikiran atau kesan.
Meditator menyadari dan memperhatikan setiap kesan yang muncul di pikiran pada saat meditasi. Misalnya bosan, malas, mengantuk, melamun, imajinasi.
4. Dhammanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan dhamma (karakteristik dari kondisi-kondisi sifat fenomena alamiah).
Meditator menyadari dan memperhatiakan apapun yang muncul yang tidak berkenaan dengan gerakan, sensasi, dan kesan. Misalnya ketika meditator menfokuskan perhatian dan kewaspadaannya pada rasa sakit yang muncul pada saat meditasi maka disadari bahwa rasa sakit itu adalah dukkha, kemudian rasa sakit yang dirasakan secara perlahan-lahan menjadi lenyap maka disadari bahwa hal itu adalah anicca. Meditator juga menyadari bahwa tubuhnya hanya perpaduan dari berbagai unsur saja, tidak ”aku” maka hal ini disadari sebagai anatta
Sikap
Seorang meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi (Iriyapatha Pabbam)
posisi berbaring (lying meditation)
Ada dua posisi yaitu Sang Buddha dan dengan posisi rebahan dengan terlentang.
Posisi berdiri (standing meditation)
Seorang moderator berdiri dengan posisi rileks. Seorang meditator memperhatikan posisinya dengan mencatat dalam hati berdiri (standing)-berdiri (standing)-berdiri (standing). Namun jika ada fenomena lain yang muncul, maka fenomena tersebut juga disadari.
  Posisi berjalan (walking meditation)
-  tahap 1
merupakan cara yang paling sederhana, dengan memperhatikan langkah gerak kaki yaitu mencatat dalam hati kanan katika kaki kanan melangkah kiri ketika kaki kiri melangkah demikian seterusnya.
-   tahap 2
meditator memperhatikan gerak kaki saat mengangkat dan menginjak tanah dan mencatat dalam hati angkat injak demikian seterusnya.
-   tahap 3
meditator memperhatikan tiga gerakan kaki dan mencatat dalam hati angkat gerak injak demikian seterusnya.
-  tahap 4
meditator memperhatikan empat dan mencatat dalam hati naik angkat gerak injak demikian seterusnya
-  tahap 5
Meditator memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan demikian seterusnya.
- tahap 6
Meditator memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan demikian seterusnya.
v  Posisi duduk (sitting meditation)
Ada beberapa posisi duduk dengan kaki bersilang yang dapat dipilih oleh seorang meditator:
1)    Sikap teratai penuh seperti yang tergambar pada tulisan buddha atau buddha rupang.
2)    Dengan kaki yang satu diletakan di belakang kaki yang lain atau menyilang yang lain, sementara kakai yang ditekuk dipisah satu sama lain.
3)   Duduk pada betis dengan paha dan lutut ditekuk bersama-sama searah, seperti sekap duduk tradisi wanita Myanmar, ” disebut duduk dengan kaki setengah silang”.
Seorang meditator memperhatikan gerakan nafas di perut, dengan mencatat dalam hati kembang (rising)-kempis (falling)-kembang-kempis demikian seterusnya. Namun jika ada fenomen lain yang muncul, misalnya rasa sakit, maka fenomena tersebut juga disadari.
3. Pancabala
Pancabala atau lima kekuatan dapat diibaratkan sebagai ”senjata” bagi meditator untuk sukses dalam melaksanakan meditasi.
  • Sati, adalah perhatian murni.
Meditator mengamati semua fenomena yang timbul, brproses, kemudian lenyap pada saat meditasi apa adanya.
Dalam Maha Satipatthana Sutta dijelaskan bahwa ”bagaimanapun tubuh ini ditaruh, demikianlah dia memahaminya (yatha yatha va panassa kayo panihito hoti tatha tatha mam pajanati)”.
  •  Samadhi, adalah konsentrasi.
Meditator selalu mengarahkan pikiran pada obyek. Semakin dalam samadhi maka pikiran cenderung menjadi lebih tenang. Karena pikiran lebih tenang,maka meditator merasa lebih santai dan berakibat timbulnya rasa kantuk. Oleh karena itu samadhi harus diseimbangkan dengan memperkuat viriya. Tetapi viriya tidak boleh lebih kuat dari samadhi,  karena bisa menyebabkan meditator menjadi gelisah
  •  Viriya, dalah semangat, usaha.
Viriya muncul bila meditator memiliki tekad berdasarkan motivasi yang benar. Viriya yang terpelihara membuat meditator mampu bertahan menghadapi semua proses yang terjadi pada batin atau jasmani yang timbul dalam meditasi Vipassana.
  •  Saddha, adalah keyakinan.
Saddha adalah motivator yang mengobarkan tekad dalam meditator untuk bejuang menghadapi semua perintah dalam diri sendiri. Bila digunakan dengan bijaksana dapat membawa pada tercapainya tujuan.
Kesimpulan:
Dengan mengikuti teknik-teknik vippasana maka kita akan memperoleh hasil yang memuaskan dari melaksanakan meditasi vippasaana tersebut.


Referensi:
- Candra, Fabian. 2007. Dhammacakka edisi 47: Memahami Lebih Jauh Meditasi Vippasana Dengan Obyek Utama Kembang Kempis Perut, Hal 96. Jakarta: Yayasan Jakarta Dhammacakka
Jaya
-  Diputera oka. 2001. Meditasi 1. Jakarta: Vajra Dharma Nusantara
-  Maha Thero, Ven Weragoda Sarada. 2005. Maha Satipatthana Sutta. Klaten: Wisma Sambodhi
- Sayadaw, Y.A Mahasi. 2003. Khotbah Vippasana. Jakarta: Lembaga Satipatthana Indonesia

No comments:

Post a Comment

setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?