Pāṭika Sutta
Tentang
Pāṭika
Seorang
Yang Berbohong Memiliki Pengetahuan
Latar belakang Pāṭika Sutta : Suatu
ketika Sang Bhāgava sedang menetap
di antara orang Malla. Anupiya adalah nama kota Malla. Sang Bhāgava
setelah merapikan jubah di pagi hari, dan membawa jubah dan mangkuk pergi ke
Anupiya untuk menerima dana makan. Namun menurut Sang Bhāgava masih terlalu
pagi untuk menerima dana makan maka Sang Buddha mengunjungi pertapaan
pengembara Bhaggava-gotta. Sutta ini dibabarkan Sang Buddha kepada
Bhaggava-gotta, berkenaan pertanyaan pertapa Sunakhata Liccaviputta yg
telah meninggalkan dhamma dan vinaya serta telah mengikuti guru lain, karena Sang Buddha tidak mau menunjukkan kekuatan batinya dan tidak
menerangkan asal mula segala
sesuatu. Intinya terdapat dua hal penting
yaitu tentang pertunjukan kemampuan batin dan
asal mula segala sesuatu.
Keajaiban-keajaiban yang ditunjukan Sang
Buddha: Sang Buddha mengetahui Pertapa Korakkatiya yg dianggap Sunakkhata
sebagai arahat dalam tujuh hari lagi akan meninggal dan terlahir sebagai
mahkluk asura Kālakañja. Sang Buddha mengetahui Pertapa
Kandaramasuka yang terhormat diantara suku vajji bersumpah selama hidupnya
sebagai pertapa telanjang tidak makan bubur dan nasi, tidak melewati bahuputta
cetiya tetapi tidak lama lagi pertapa tersebut akan mengenakan pakaian dan
kawin seperti apa yg dikatakan Sang Buddha. Sang Bhāgava ditantang adu
kehebatan oleh Pāṭikaputta namun
karena kesombongan Pāṭikaputta, Pāṭikaputta tidak
dapat bertemu dengan Sang Buddha sebelum Pāṭikaputta mencabut kata-katanya, melepaskan pikirannya,
dan meninggalkan pandangan salah. Sang Bhāgava menasihati,
menginspirasi, memicu semangat, dan menggembirakan kerumunan itu
dengan khotbah Dhamma. Memasuki unsur api dan terbang ke angkasa hingga
setinggi tujuh pohon palem, dan memancarkan cahaya setinggi tujuh
pohon palem lagi sehingga bersinar dan menebarkan
keharuman, kemudian muncul kembali di Aula Beratap Segitiga
di Hutan Besar.
Asal mula
segala sesuatu: Akan tiba satu saat cepat atau lambat, setelah
berakhirnya suatu masa yang lama di dunia
ini akan hancur dan berevolusi. Ketika hal itu terjadi, umumnya mahkluk-mahluk terlahir kembali dialam Abhassara. Mereka hidup di alam itu dengan kekuatan pikiran,
kenikmatan, memancarkan cahaya dari tubuh dan kehidupan ini berlangsung terus
dlm keindahan, dlm masa yg lama sekali. Akan tiba pada satu saat cepat atau
lambat bumi mulai berevolusi dlm pembentukan kembali, ketika hal ini terjadi
alam brahma nampak kosong. Ada sosok mahkluk yg karena masa hidupnya telah habis dan
pahalanya ia meninggal dr alam Abhasara terlahir kealam brahma. Di alam ini ia hidup dengan kekuatan
pikiran, kenikmatan, memancarkan cahaya dlm keindahan dalam suatu masa yg lama sekali, karena mereka tinggal dialam itu terlalu lama dan sendirian maka
perasaan yang tidak puas dan kerinduan muncul dalam diri mereka.
Akhir khotbah: Bhaggava si pengembara senang
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhāgava, Sang Bhāgava
menasehati agar berusaha keras dan berpandangan benar.
Pesan
moral: kita tidak boleh memiliki sifat sombong karena akan merugikan kita
sendiri, jangan menjadi orang yang irihati akan kebahagiaan orang lain, berusaha
keras dalam mengerjakan suatu pekerjaan dan berpandangan benar, berlatihlah
untuk bicara jujur kepada siapapun, contohlah guru yang memiliki kemoralan yang
baik, berlatih untuk mengurangi keragu-raguan dalam hati.
Sumber : Maurice Walshe.1987,1995 Digha
Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press
No comments:
Post a Comment
setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?