Thursday, 10 March 2016

Mahāsatipaṭṭhāna Sutta



Mahāsatipaṭṭhāna Sutta
Khotbah Panjang Tentang Landasan-Landasan Perhatian
Latar belakang Maha Sathipathana Sutta : Pernyataan Sang Bhagavā tentang satu jalan untuk memurnikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk melenyapkan kesakitan dan kesedihan, untuk memperoleh jalan benar, untuk mencapai Nibbāna : yaitu, empat landasan perhatian. Tempat terjadinya sutta disebuah kota-pasar yang disebut Kammāsadhamma.
Empat Landasan Perhatian yaitu :
1  Merenungkan jasmani sebagai jasmani.
2. Merenungkan perasaan sebagai perasaan.
3. Merenungkan pikiran sebagai pikiran.
4. Merenungkan objek-pikiran sebagai objek-pikiran.
1a.Perhatian pada pernafasan (jasmani sebagai jasmani): Dengan penuh perhatian menarik nafas, dengan penuh perhatian mengembuskan nafas, menarik nafas panjang mengetahui bahwa menarik nafas panjang, dan mengembuskan nafas panjang, ia mengetahui bahwa mengembuskan nafas panjang. Dengan begitu akan melatih berfikir dan mengetahui seluruh proses jasmani, bagaikan seorang akrobatik dalam melakukan putaran panjang tahu bahwa melakukan putaran panjang, atau dalam melakukan putaran pendek, tahu bahwa ia melakukan putaran pendek.
1b. Empat postur (jasmani sebagai jasmani) seorang bhikkhu, ketika sedang berjalan, mengetahui bahwa ia sedang berjalan, ketika sedang berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri, ketika sedang duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk, ketika sedang berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring. Dalam cara bagaimanapun jasmaninya diposisikan, ia mengetahui sebagaimana adanya.
2.(perasaan sebagai perasaan.) Seorang bhikkhu yang sedang merasakan perasaan menyenangkan mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyenangkan, merasakan perasaan menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyakitkan, merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan juga-bukan-menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan-juga-bukan-menyakitkan.
3. (PERENUNGAN PIKIRAN) seorang bhikkhu mengetahui pikiran penuh nafsu sebagai penuh nafsu, pikiran yang bebas dari nafsu sebagai bebas dari nafsu; pikiran membenci sebagai membenci, pikiran yang bebas dari kebencian sebagai bebas dari kebencian; pikiran yang menipu sebagai menipu, pikiran yang tidak menipu sebagai tidak menipu; pikiran kacau sebagai pikiran kacau, pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi, pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi.
4.Lima rintangan(PERENUNGAN OBJEK-OBJEK PIKIRAN) : Mengetahui hadirnya keinginan indria dalam diri dan tidak hadirnya keinginan indria di dalam diri, mengetahui hadirnya kebencian dalam diri dan tidak hadirnya kebencian di dalam diri, mengetahui hadirnya ketumpulan dan kelambanan dalam diri dan tidak hadirnya ketumpulan dan kelambanan di dalam diri, mengetahui hadirnya kekhawatiran dan kegelisahan dan tidak hadirnya kekhawatiran dan kegelisahan, mengetahui hadirnya keragu-raguan dan tidak hadirnya keragu-raguan.
Tujuh Faktor Penerangan Sempurna.
1. Perhatian, kesadaran mengingat ( sati ),
2. Penyelidikan terhadap Dharma ( dhammavicaya )
3. Usaha yang bersemangat ( viriya )
4. Kegiuran, kegairahan yang mendalam ( piti )
5. Ketenangan ( passaddhi )
6. Konsentrasi ( samadhi )
7. Keseimbangan batin ( upekkha ).
Empat kebenaran mulia.
1. penderitaan.
2. Asal-mula penderitaan.
3. Lenyapnya penderitaan.
4. jalan menuju lenyapnya penderitaan.
1a.Kebenaran mulia penderitaan : Kelahiran, usia-tua, kematian, kesakitan, ratapan.
2a.Kebenaran mulia asal-mula penderitaan: keinginan, kesenangan dan nafsu.
3a.Kebenaran mulia menuju Lenyapnya Penderitaan: Jalan mulia berfaktor delapan
Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar.
Kesimpulan : Mahāsatipaṭṭhāna Sutta khotbah panjang landasan-landasan perhatian Sutta ini dalam masyarakat dianggap salah satu Sutta paling penting karena dalam sutta ini menjelaskan tentang: Empat Landasan Perhatian yang berisi merenungkan jasmani sebagai jasmani, merenungkan perasaan sebagai perasaan, merenungkan pikiran sebagai pikiran, merenungkan objek-pikiran sebagai objek-pikiran. Dengan begitu kita dapat mempraktekanya contoh pada perenungan jasmani sebagai jasmani kita dapat memperhatikan nafas kita keluar dan masuknya udara dengan begitu kita dapat berfikir dan mengetahui proses jasmani.Tujuh faktor penerangan sempurna menjelaskan tentang perhatian, penyelidikan terhadap dharma, usaha yang bersemangat, piti, ketenangan, konsentrasi, keseimbangan batin.Dapat diambil contoh dalam kehidupan sehari-hari seseorang akan sukses dalam pekerjaan apabila memiliki semangat, ketenangan dan konsentrasi. Empat kebenaran mulia di dalam sutta ini ditunjukan tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan dengan jalan mulia berfaktor delapan.
Sumber :
Maurice Walshe.1987,1995 Digha Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press

No comments:

Post a Comment

setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?