Mahāsatipaṭṭhāna Sutta
Khotbah
Panjang Tentang Landasan-Landasan Perhatian
Latar belakang Maha
Sathipathana Sutta : Pernyataan Sang Bhagavā tentang satu jalan untuk
memurnikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk
melenyapkan kesakitan dan kesedihan,
untuk memperoleh jalan benar, untuk
mencapai Nibbāna : yaitu, empat landasan perhatian. Tempat terjadinya sutta
disebuah kota-pasar yang disebut Kammāsadhamma.
Empat Landasan
Perhatian yaitu :
1 Merenungkan jasmani sebagai jasmani.
2. Merenungkan
perasaan sebagai perasaan.
3. Merenungkan pikiran
sebagai pikiran.
4. Merenungkan
objek-pikiran sebagai objek-pikiran.
1a.Perhatian pada pernafasan (jasmani
sebagai jasmani): Dengan penuh perhatian menarik nafas, dengan
penuh perhatian mengembuskan nafas, menarik nafas panjang mengetahui bahwa
menarik nafas panjang, dan mengembuskan nafas panjang, ia mengetahui bahwa
mengembuskan nafas panjang. Dengan begitu akan melatih berfikir dan mengetahui
seluruh proses jasmani, bagaikan seorang akrobatik dalam melakukan putaran
panjang tahu bahwa melakukan putaran panjang, atau dalam melakukan putaran
pendek, tahu bahwa ia melakukan putaran pendek.
1b. Empat postur (jasmani sebagai jasmani) seorang
bhikkhu, ketika sedang berjalan, mengetahui bahwa ia sedang berjalan, ketika
sedang berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri, ketika sedang duduk,
mengetahui bahwa ia sedang duduk, ketika sedang berbaring, mengetahui bahwa ia
sedang berbaring. Dalam cara bagaimanapun jasmaninya diposisikan, ia mengetahui
sebagaimana adanya.
2.(perasaan sebagai
perasaan.) Seorang bhikkhu yang sedang merasakan perasaan menyenangkan
mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyenangkan, merasakan perasaan
menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan
menyakitkan, merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan juga-bukan-menyakitkan, ia
mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan-juga-bukan-menyakitkan.
3. (PERENUNGAN
PIKIRAN) seorang bhikkhu mengetahui pikiran penuh nafsu sebagai penuh nafsu,
pikiran yang bebas dari nafsu sebagai bebas dari nafsu; pikiran membenci
sebagai membenci, pikiran yang bebas dari kebencian sebagai bebas dari
kebencian; pikiran yang menipu sebagai menipu, pikiran yang tidak menipu
sebagai tidak menipu;
pikiran kacau sebagai pikiran
kacau, pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi, pikiran
tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi.
4.Lima rintangan(PERENUNGAN
OBJEK-OBJEK PIKIRAN)
: Mengetahui hadirnya
keinginan indria dalam diri dan
tidak hadirnya keinginan indria di dalam diri, mengetahui hadirnya kebencian
dalam diri dan tidak hadirnya kebencian di dalam diri, mengetahui hadirnya ketumpulan dan kelambanan dalam diri dan tidak hadirnya ketumpulan dan kelambanan di dalam diri, mengetahui hadirnya kekhawatiran
dan kegelisahan dan tidak
hadirnya kekhawatiran dan
kegelisahan, mengetahui hadirnya keragu-raguan dan
tidak hadirnya keragu-raguan.
Tujuh Faktor Penerangan Sempurna.
1. Perhatian, kesadaran
mengingat ( sati ),
2. Penyelidikan
terhadap Dharma ( dhammavicaya )
3. Usaha yang
bersemangat ( viriya )
4. Kegiuran, kegairahan
yang mendalam ( piti )
5. Ketenangan (
passaddhi )
6. Konsentrasi (
samadhi )
7. Keseimbangan batin (
upekkha ).
Empat kebenaran mulia.
1. penderitaan.
2. Asal-mula
penderitaan.
3. Lenyapnya
penderitaan.
4. jalan menuju
lenyapnya penderitaan.
1a.Kebenaran mulia penderitaan
: Kelahiran,
usia-tua,
kematian,
kesakitan,
ratapan.
2a.Kebenaran mulia
asal-mula penderitaan: keinginan, kesenangan dan nafsu.
3a.Kebenaran mulia
menuju Lenyapnya Penderitaan: Jalan mulia berfaktor delapan
Pandangan Benar,
Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar,
Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar.
Kesimpulan
: Mahāsatipaṭṭhāna
Sutta khotbah
panjang landasan-landasan perhatian Sutta ini dalam masyarakat dianggap salah
satu Sutta paling penting karena dalam sutta ini menjelaskan tentang: Empat Landasan Perhatian yang berisi merenungkan
jasmani sebagai jasmani, merenungkan perasaan sebagai perasaan, merenungkan
pikiran sebagai pikiran, merenungkan objek-pikiran sebagai objek-pikiran.
Dengan begitu kita dapat mempraktekanya contoh pada perenungan jasmani sebagai
jasmani kita dapat memperhatikan nafas kita keluar dan masuknya udara dengan
begitu kita dapat berfikir dan mengetahui proses jasmani.Tujuh faktor penerangan sempurna
menjelaskan tentang perhatian, penyelidikan
terhadap dharma, usaha yang bersemangat, piti, ketenangan, konsentrasi, keseimbangan
batin.Dapat diambil contoh dalam kehidupan sehari-hari seseorang akan sukses
dalam pekerjaan apabila memiliki semangat, ketenangan dan konsentrasi. Empat
kebenaran mulia di dalam sutta ini ditunjukan tentang jalan menuju lenyapnya
penderitaan dengan jalan mulia berfaktor delapan.
Sumber :
Maurice
Walshe.1987,1995 Digha Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press
No comments:
Post a Comment
setelah anda membaca isi blog ini, bagaimana tanggapan anda tentang isi blog yang anda baca?