Thursday, 17 March 2016

SUTTA SALAYATANA VAGGA



1. Aditta Sutta
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Gaya, di tempat tinggal pemimpin Gayā bersama dengan seribu bhikkhu. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, segalanya terbakar. Dan apakah, para bhikkhu, segalanya yang terbakar itu? Mata terbakar, bentuk-bentuk terbakar, kesadaran-mata terbakar, kontak-mata terbakar, dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh apakah? Terbakar oleh api nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan, Aku katakan. “Telinga terbakar Pikiran terbakar dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh apakah? Terbakar oleh api nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan, Aku katakan. “Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terlatih mengalami kejijikan terhadap mata, terhadap bentuk-bentuk, terhadap kesadaran-mata, terhadap kontak-mata, terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan; mengalami kejijikan terhadap telinga terhadap pikiran terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi Mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan maka [batinnya] terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi makhluk ini.’ Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Senang, para bhikkhu itu gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā. Dan ketika khotbah ini disampaikan, batin seribu bhikkhu itu terbebaskan dari noda-noda melalui ketidak melekatan.


2.  Punna Sutta
Punna, ada bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang disukai, indah menyenangkan, nikmat, memikat indria, menggoda. Jika seorang bhikkhu menikmatinya, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya, maka kenikmatan muncul dalam dirinya. Dengan munculnya kenikmatan, Puṇṇa, maka muncul pula penderitaan, Aku katakan. Ada, Puṇna, suara-suara yang dikenali oleh telinga fenomena-fenomena pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang disukai, indah menyenangkan, nikmat, memikat indria, menggoda. Jika seorang bhikkhu menikmatinya, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya, maka kenikmatan muncul dalam dirinya. Dengan munculnya kenikmatan, Puṇṇa, maka muncul pula penderitaan, Aku katakan.“Puṇṇa, ada bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata fenomena-fenomena pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang disukai, indah menyenangkan, nikmat, memikat indria, menggoda. Jika seorang bhikkhu tidak menikmatinya, tidak menyambutnya, dan tidak terusmenerus menggenggamnya, maka kenikmatan lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya kenikmatan, Puṇṇa, maka lenyap pula penderitaan, Aku katakan. “Sekarang engkau telah menerima nasihat singkat dariKu, Puṇṇa, di negeri manakah engkau akan menetap?”“Ada, Yang Mulia, negeri bernama Sunāparanta. Aku akan menetap di sana.”“Puṇṇa, penduduk Sunāparanta kejam dan kasar. Jika mereka mencela dan memakimu, apa pendapatmu mengenai hal itu?”“Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta mencela dan memakiku, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak memukulku dengan tinju.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta memukulmu dengan tinju, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta memukulku dengan tinju, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak melemparku dengan tanah.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta melemparmu dengan tanah, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta melemparku dengan tanah, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak memukulku dengan kayu.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta memukulmu dengan kayu, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta memukulku dengan kayu, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak menikamku dengan pisau.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta menikammu dengan pisau, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta menikamku dengan pisau, maka aku akan berpikir: ‘Penduduk Sunāparanta ini baik, sungguh baik, dalam hal bahwa mereka tidak membunuhku dengan pisau tajam.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Tetapi, Puṇṇa, jika penduduk Sunāparanta membunuhmu dengan pisau tajam, apa pendapatmu mengenai hal itu?” “Yang Mulia, jika penduduk Sunāparanta membunuhku dengan pisau tajam, maka aku akan berpikir: ‘Ada para siswa Sang Bhagavā, yang karena muak, malu, dan jijik akan jasmani dan kehidupannya, mencari pembunuh. Tetapi aku mendapatkan pembunuh tanpa mencari.’ Maka aku akan berpikir demikian, Bhagavā; maka aku akan berpikir demikian, Yang Sempurna.” “Bagus, bagus, Puṇṇa! Dengan memiliki pengendalian-diri dan kedamaian demikian, engkau akan mampu menetap di negeri Sunāparanta.

3. Pathama Migajala Sutta
            Sang Buddha memberikan definisi tentang seorang bhikkhu yang hidup dalam kesendirian. Bila seorang bhikkhu tidak waspada sehingga merasakan kesenangan di dalam enam obyek indera dan secara salah menganggapnya sebagai “ini milikku”, “ini aku”, “ini diriku”, maka nafsu keinginan terhadap mereka itu muncul di dalam dirinya dan dia menjadi melekat pada belenggu. Bhikkhu seperti itu dimana nafsu keinginan telah muncul, dianggap sebagai orang yang hidup dengan teman, sekalipun dia hidup sendirian di dalam hutan jauh dari kota dan desa. Tetapi, bila dia dengan waspada menerima sifat sejati enam landasan indera dan enam obyek indera dia tidak akan berpegang secara salah padanya sebagai “ini milikku”, “ini aku”, “ini diriku” dan tidak muncul nafsu keinginan terhadapnya. Bhikkhu seperti itu, dimana tidak muncul nafsu keinginan, dikatakan hidup sendiri tanpa teman sekalipun dia hidup diantara orang banyak di kota atau di desa.

4. Pathama Darukkhandhopama Sutta
            Sang Buddha menggunakan perumpamaan batang kayu yang terapung di sungai. Beliau mengatakan bahwa jika batang kayu itu tidak terhenti di dua tepian, tidak tenggelam di tengah sungai, tidak diselamatkan dan ditaruh di tepi oleh seseorang, tidak diambil oleh manusia atau dewa, tidak tersedot ke dalam pusaran air, dan jika tidak hancur di sepanjang jalan, maka kayu itu akan di bawa arus sampai tiba di tujuannya, yaitu samudra. Di dalam perumpamaan ini, tepian sungai yang dekat berarti enam landasan indera internal, tepian sungai yang jauh berarti enam obyek indera eksternal, tenggelam di tengah sungai berarti terbenam di dalam kenikmatan indera, diselamatkan dan ditaruh di tepi berarti terhalang oleh kesombongannya sendiri, diambil oleh manusia berarti melakukan pelayanan atau pekerjaan untuk manusia, diambil oleh dewa, berarti mempraktekkan kehidupan suci dengan alam dewa sebagai tujuannya tersedot ke dalam pusaran air berarti bergelimang di dalam kenikmatan indera, menjadi hancur di sepanjang jalan berarti menjadi rusak, tidak bermoral, tak peduli pada peraturan disiplin. Jika seorang bhikkhu dapat mengendalikan dirinya sehingga bebas dari halangan-halanagan ini, dia akan dibawa oleh arus pandangan benar sampai tiba di tujuannya Nibbana.

5. Dukkarapanha Sutta
            Menyatakan bahwa di dalam ajaran Sang Buddha, pertama, memang sulit untuk menjadi anggota sangha sebagai calon bhikkhu dan sebagai bhikkhu. Kedua, sulit untuk bahagia dan nyaman di dalam sangha dengan peraturan disiplinnya. Ketiga, sekalipun jika orang bertahan pada jalan itu dan tetap berada di dalam sangha, sulit baginya untuk mempraktekkan meditasi konsentrasi dan meditasi vipassana untuk mencapai tingkat-tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bila sepenuhnya tertopang oleh parami (kesempurnaan), seorang bhikkhu yang mendapat instruksi di pagi hari dan mulai mempraktekkan meditasi di pagi hari mungkin dapat sepenuhnya terbebas di malam hari, jika dia mendapat instruksi di malam hari dan mulai mempraktekkan meditasi di malam hari, dia mungkin dapat sepenuhnya terbebas di pagi hari.

6. Sankhadhamma Sutta
            Sang Buddha menunjukkan pandangan-pandangan salah yang dipegang oleh Nigantha Nataputta mengenai kamma dan akibat yang dihasilkannya. Menurut pemimpin desa Asibandhakaputta, Gurunya yaitu Nigantha Nataputta mengajarkan bahwa setiap orang yang menjalankan perbuatan jahat seperi membunuh, berbohong dll. Pastilan terlahir di alam menderita. Tindakan apapun yang lebih sering dilakukan, tindakan itu cenderung menentukan nasib makhluk itu. Menunjukkan kesalahan itu di dalam dua pernyataan yang saling berlawanan. Andaikan saja seseorang tidak sering melakukan perbuatan jahat, misalnya membunuh, tetapi dia lebih sering melakukan perbuatan lain. Maka menurut Nigantha Nataputta, orang ini tidak akan mengalami keadaan yang menderita karena perbuatan jahat membunuh itu tadi. Kemudian Sang Buddha menjelaskan bahwa hanya tindakan-tindakan yang amat bengis seperti misalnya membunuh orang tua sendiri, memecah belah sangha dll. Yang akan membawa akibat langsung terlahir di alam penderitaan. Perbuatan-perbuatan salah lain, baik fisik, ucapan maupun mental, tidak dapat dianggap pasti akan membawa pada nasib yang tidak bahagia. Orang tidak boleh hanya merasakan penyesalan dan rasa bersalah terhadap perbuatan jahatnya sendiri, melainkan dia harus mengenali bahwa perbuatannya itu jahat, dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan seperti itu lagi, dan kemudian diikuti dengan praktek konsentrasi dan meditasi vipassana.

7. Bhadraka Sutta
            Sang Buddha menerangkan asal mula penderitaan dengan memberikan contoh-contoh yang jelas. Kepala desa yang bernama bhadraka ingin mengetahui penyebab penderitaan yang menimpa umat manusia. Sebagai jawabannya Sang Buddha menyuruhnya memikirkan putranya dan membayangkan bahwa putranya ini menemui bencana yang tak terduga, atau ditangkap atas perintah raja atau dijatuhi hukuman yang berat. Bhadraka membayangkan sebgai mana diperintahkan dan mendapati bahwa buah-buah piker demikian itu menimbulkan kesedihan, ratap tangis, penderitaan, rasa tertekan, kesusahan dan keputus-asaan didalam dirinya. Namun ketika dia membayangkan orang yang tak dikenal pada keadaan seperti itu, menghadapi kesulitan seperti itu, dia mendapati bahwa dia sama sekali tidak terbebani penderitaan mental apapun. Maka bhadraka menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa perbedaan didalam reaksi mentalnya terhadap dua situasi itu terletak pada kenyataan bahwa dia mencintai putranya dengan cinta kasih orang tua dan karna dia amat menyayanginya, sementara tidak ada perasaan seperti itu terhadap orang yang tidak dikenal. Sang Buddha kemudian bertanya apakah ada cinta, nafsu atau keinginan yang muncul didalam dirinya sebelum dia bertemu atau melihat atau mendengar tentang wanita yang menjadi istrinya. Bhadraka menjawab bahwa baru ketika dia bertemu, melihat dan mendengar tentang wanita itulah maka dia mengembangkan nafsu keinginan dan kemelekatan terhadap istrinya. Ketika Sang Buddha bertanya lagi apakah dia akan menderita karna kesedihan, ratap tangis, penderitaan, rasa tertekan, kesusahan, keputus-asaan, bila ada sesuatu musibah menimpa istrinya, dia mengaku bahwa dia akan menderita lebih dari pada hanya bersedih dia mungkin mati karena penderitaan yang amat kuat. Maka Sang Buddha pun menunjukkan bahwa akar penyebab penderitaan di dunia ini adalah keserakahan, nafsu keinginan, nafsu kenikmatan, yang melahap umat manusia. Sudah demikian halnya di masa lampau, demikian halnya dimasa kini, dan akan demikian halnya dimasa mendatang. 

Sumber: Bhikku Bodhi . 2010 Samyutta Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press

Tuesday, 15 March 2016

Culavedalla Sutta



Culavedalla Sutta
Rangkaian Pendek Tanya-Jawab
Disampaikan  : Bhikkhuni Dhammadinna.
Kepada           : Umat awam Visākha.
Tempat           : Rajagaha di hutan bambu, taman suaka tupai.
Inti sutta         : Perwujudan, timbulnya perwujudan, Jalan mulia berunsur delapan, konsentrasi, proses, pencapaian pelenyapan,  perasaan dan kecenderungan laten.
Latar belakang : Adanya keinginan umat awam Visakha untuk bertanya kepada bhikkhuni Dhammadinna tentang beberapa hal.
Pembahasan
Identitas terpengaruh oleh kemelekatan pada lima kelompok unsur kehidupan, kelompok  unsur bentuk materi yang terpengaruh oleh  kemelekatan, kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh  kemelekatan, kelompok unsur bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Asal-mula identitas adalah ketagihan, yang  membawa penjelmaan baru, yang disertai  dengan  kesenangan  dan  nafsu, dan  senang  akan ini dan itu; yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan pada penjelmaan, dan  ketagihan  pada  tanpa penjelmaan.

Jalan mulia berunsur delapan : pandangan  benar, pikiran benar,  ucapan  benar, perbuatan  benar,  pencaharian  benar,  daya upaya  benar,  perhatian benar, dan konsentrasi benar.
Kelompok moralitas: ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar.
Kelompok konsentrasi: daya upaya benar, perhatian benar, dan kosentrasi benar.
Kelompok kebijaksanaan: pandangan benar, pikiran benar.
Konsentrasi adalah keterpusatan pikiran, empat landasan perhatian adalah landasan konsentrasi, empat usaha benar adalah perlengkapan konsentrasi, pengulangan, pengembangan, dan pelatihan atas kondisi-kondisi yang sama ini adalah pengembangan konsentrasi.

Pencapaian  lenyapnya  persepsi dan perasaan terjadi : seorang bhikkhu mencapai lenyapnya persepsi  dan  perasaan,  ia  tidak  berpikir: ‘Aku  akan  mencapai lenyapnya  persepsi  dan  perasaan,’ atau ‘Aku  sedang  mencapai lenyapnya  persepsi  dan  perasaan,’atau ‘Aku  telah  mencapai lenyapnya  persepsi  dan  perasaan’;  melainkan  pikirannya  telah dikembangkan sebelumnya.

Tiga jenis perasaan:  perasaan menyenangkan, perasaan  menyakitkan,  dan  perasaan  bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. perasaan apapun  yang  dirasakan  secara jasmani atau secara batin yang menyenangkan dan menyejukkan adalah  perasaan  menyenangkan.  Perasaan  apapun  yang dirasakan  secara  jasmani  atau  secara  batin  yang  menyakitkan dan  melukai  adalah  perasaan  menyakitkan.  Perasaan  apapun yang  dirasakan  secara  jasmani  atau  secara  batin  yang  tidak menyejukkan  juga  tidak  melukai adalah  perasaan  bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.



Kecenderungan laten, kecenderungan tersembunyi pada nafsu mendasari perasaan  menyenangkan. Kecenderungan tersembunyi  pada  penolakan  mendasari perasaan  menyakitkan. Kecenderungan  tersembunyi  pada  ketidak-tahuan  mendasari perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.

Kesimpulan: sutta ini memberikan gambaran dan cara bagaimana merealisasikan Nibbana, pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kecenderungan laten yang tersembunyi yang harus kita sadari dan kita hindari dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.

Pesan moral: dengan memperaktekan jalan tengah akan membuka mata batin, menimbulkan pengetahuan, membawa ketenangan pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung dan pencapaian Nibbana

     Sumber :
     Bhikkhu Nanamoli & Bhikku Bodhi . 1995 Majjhima Nikaya.Jakarta:Dhamma Citta Press