Sigālovada Sutta
Kepada Sigālaka
Latar belakang Sigālaka Sutta :
Pada pagi hari Sang Bhagavā
melihat Sigālaka putra seorang perumah tangga sedang menyembah, dengan pakaian
dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur,
selatan, barat, dan utara ke bawah dan ke atas. Tempat terjadinya sutta Sang
Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di tempat memberi makan tupai, di Hutan
Bambu. Empat cacat tingkah laku yang harus dihindari : Pertama adalah membunuh,
ke dua adalah mengambil yang tidak diberikan, ke tiga adalah pelanggaran
seksual, ke empat adalah berbohong. Empat penyebab kejahatan yang harus
dihindari : Kejahatan yang muncul dari keterikatan (nafsu keinginan) sebagai
contoh, karena nafsu keinginan terhadap kesenangan yang salah, seseorang dapat
melakukan perbuatan asusila. Kejahatan yang muncul dari kebencian (kemarahan)
sebagai contoh, karena marah yang tidak terkendalikan, seseorang dapat melukai
orang lain (membunuh). Kejahatan yang muncul dari kebodohan sebagai contoh,
karena tidak mengetahui bahwa merupakan suatu kesalahan seseorang membeli barang
curian, bajakan, seseorang dapat mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
Kejahatan yang muncul dari ketakutan sebagai contoh, karena takut bahwa suatu
kesalahan atau perbuatan jahat diketahui, seseorang dapat berbohong. Orang yang
bermoral baik tidak akan melakukan kejahatan dari keterikatan , kebencian,
kebodohan, ketakutan. Enam saluran pemborosan yang harus dihindari pertama
ketagihan pada minuman keras dan obat-obatan yang menyebabkan kelambanan, ke
dua menghabiskan harta dengan berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak
tepat, ke tiga mengunjungi tempat hiburan, ke empat ketagihan berjudi, ke lima
bergaul dengan teman-teman jahat, ke enam kemalasan yang menjadi kebiasaan.
Enam bahaya yang
terdapat pada ketagihan minuman keras:
1. Menghabiskan uang secara berlebihan dan kehilangan
harta kekayaan dengan seketika.
2. Meningkatkan pertengkaran dan permusuhan.
3. Mudah terserang penyakit.
4. Reputasi yang buruk
5. Membuka rahasia seseorang.
6. Menurunkan kecerdasan.
Enam bahaya
menghabiskan kekayaan dengan berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak tepat:
1. Mudah terkena bahaya.
2. Istri dan anak‐anaknya
dalam bahaya.
3. Rumah tidak terjaga dan tidak aman.
4. Dituduh melakukan kejahatan.
5. Bisa menjadi korban laporan palsu.
6. Bertemu dengan banyak kesulitan.
Enam bahaya mengunjungi
tempat-tempat hiburan:
1. Seseorang selalu berpikir di manakah tariannya?
2. Seseorang selalu berpikir di manakah nyanyiannya?
3. Seseorang selalu berpikir di manakah mereka
memainkan musik?
4. Seseorang selalu berpikir di manakah mereka
bercerita?
5. Seseorang selalu berpikir di manakah tepuk tangannya?
6. Seseorang selalu berpikir di manakah genderangnya?
Enam bahaya ketagihan
berjudi:
1. Pemenangnya akan dimusuhi.
2. Yang kalah meratapi kekalahannya.
3. Ia menghilangkan kekayaannya yang ada sekarang.
4. Kata-katanya tidak dipercaya di dalam suatu
perkumpulan.
5. Ia dipandang rendah oleh teman-teman dan
rekan-rekannya.
6. Ia tidak dipilih sebagai calon yang sesuai dalam
pernikahan.
Enam bahaya bergaul
dengan teman-teman jahat:
1. Dapat menjadi penjudi.
2. Dapat menjadi orang rakus.
3. Dapat menjadi pemabuk.
4. Dapat menjadi penipu.
5. Dapat menjadi seseorang yang memanfaatkan orang
lain.
6. Dapat menjadi penjahat yang kejam dan pengganggu.
Enam bahaya kemalasan
yang menjadi kebiasaan, berpikir :
1. Terlalu dingin ia tidak bekerja.
2. Terlalu panas ia tidak bekerja.
3. Terlalu pagi ia tidak bekerja.
4. Terlalu larut ia tidak bekerja.
5. Aku terlalu lapar tidak bekerja.
6. Aku terlalu kenyang tidak bekerja.
Hubungan timbal balik
dalam masyarakat. Buddha menjelaskan bahwa penghormatan terhadap enam arah
dilakukan dengan memandang enam arah sebagai pelaksanaan kewajiban timbal balik
kepada:
a) Ayah dan ibu sebagai arah Timur.
b) Guru sebagai arah Selatan.
c) Istri dan anak sebagai arah Barat.
d) Sahabat sebagai arah Utara.
e) Pelayan dan pembantu sebagai arah bawah.
f) Para Pertapa dan Brahmana sebagai arah atas.
Kewajiban
timbal balik terhadap masyarakat
No.
|
Kewajiban anggota keluarga sebagai masyarakat
|
Contoh hak masyarakat sebagai pelaksanaan kewajiban
anggota keluarga
|
01.
02.
03.
04.
05.
|
Bermurah hati
Contoh: menolong
Ramah tamah
Contoh: menyapa, memberi salam
Berbuat baik
Contoh: mengikuti kegiatan di
masyarakat, menghargai perbedaan, bergotong royong.
Menjamu
Contoh : berbagi, mengundang
makan
Menepati janji
Contoh : menghadiri pertemuan,
ikut siskamling/rapat, menepati janji dengan tetangga.
|
v Contoh : ditolong
v Contoh : dihormati, dihargai
v Contoh : diperlakukan dengan baik, dapat bekerja sama
v Contoh : diundang dalam acara tertentu
v Contoh : tidak dibohongi ketika memiliki janji
|
Kesimpulan
setiap orang
dalam masyarakat pasti memiliki tugas dan kewajibannya masing-masing pada saat
berhubungan dengan fihak lain. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, ada hal yang
harus dipersiapkan yaitu pengendalian diri kita. Tanpa adanya pengendalian dan
penguasaan diri sendiri, maka melaksanakan tugas dan kewajiban seperti yang
dinasehatkan oleh Sang Buddha tersebut menjadi hal yang mustahil. Dalam
perkembangannya, pengendalian diri ini tidaklah mudah dilakukan. Manusia cenderung memiliki keakuan yang
tinggi. Apabila keakuan tidak dapat dikuasai, maka ia tidak akan merasa lebih
rendah daripada orang lain. Dengan demikian, ia tidak merasa memiliki kewajiban
yang harus dilakukan kepada orang lain. Ia hanya merasa memiliki hak bahwa
orang lain hendaknya melakukan kewajiban untuknya. Padahal isi Sutta Sigālaka
kita seharusnya menyadari bahwa hak dan kewajiban berlaku untuk semua fihak.
Bagaikan air yang selalu dapat menyesuaikan bentuk dimanapun air ditempatkan
dalam wadah meskipun wadahnya berbeda namun tidak kehilangan kualitas pokoknya
sebagai air sesungguhnya seperti sifat air tersebut, seseorang dalam kehidupan
sehari-hari hendaknya selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa
mengubah jati diri.