Tuesday, 27 November 2018

Sigālovada Sutta



Sigālovada Sutta
Kepada Sigālaka
Latar belakang Sigālaka Sutta : Pada pagi hari Sang Bhagavā melihat Sigālaka putra seorang perumah tangga sedang menyembah, dengan pakaian dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur, selatan, barat, dan utara ke bawah dan ke atas. Tempat terjadinya sutta Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di tempat memberi makan tupai, di Hutan Bambu. Empat cacat tingkah laku yang harus dihindari : Pertama adalah membunuh, ke dua adalah mengambil yang tidak diberikan, ke tiga adalah pelanggaran seksual, ke empat adalah berbohong. Empat penyebab kejahatan yang harus dihindari : Kejahatan yang muncul dari keterikatan (nafsu keinginan) sebagai contoh, karena nafsu keinginan terhadap kesenangan yang salah, seseorang dapat melakukan perbuatan asusila. Kejahatan yang muncul dari kebencian (kemarahan) sebagai contoh, karena marah yang tidak terkendalikan, seseorang dapat melukai orang lain (membunuh). Kejahatan yang muncul dari kebodohan sebagai contoh, karena tidak mengetahui bahwa merupakan suatu kesalahan seseorang membeli barang curian, bajakan, seseorang dapat mengambil sesuatu yang tidak diberikan. Kejahatan yang muncul dari ketakutan sebagai contoh, karena takut bahwa suatu kesalahan atau perbuatan jahat diketahui, seseorang dapat berbohong. Orang yang bermoral baik tidak akan melakukan kejahatan dari keterikatan , kebencian, kebodohan, ketakutan. Enam saluran pemborosan yang harus dihindari pertama ketagihan pada minuman keras dan obat-obatan yang menyebabkan kelambanan, ke dua menghabiskan harta dengan berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak tepat, ke tiga mengunjungi tempat hiburan, ke empat ketagihan berjudi, ke lima bergaul dengan teman-teman jahat, ke enam kemalasan yang menjadi kebiasaan.
Enam bahaya yang terdapat pada ketagihan minuman keras:
1.      Menghabiskan uang secara berlebihan dan kehilangan harta kekayaan dengan seketika.
2.      Meningkatkan pertengkaran dan permusuhan.
3.      Mudah terserang penyakit.
4.      Reputasi yang buruk
5.      Membuka rahasia seseorang.
6.      Menurunkan kecerdasan.
Enam bahaya menghabiskan kekayaan dengan berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak tepat:
1.      Mudah terkena bahaya.
2.      Istri dan anakanaknya dalam bahaya.
3.      Rumah tidak terjaga dan tidak aman.
4.      Dituduh melakukan kejahatan.
5.      Bisa menjadi korban laporan palsu.
6.      Bertemu dengan banyak kesulitan.
Enam bahaya mengunjungi tempat-tempat hiburan:
1.      Seseorang selalu berpikir di manakah tariannya?
2.      Seseorang selalu berpikir di manakah nyanyiannya?
3.      Seseorang selalu berpikir di manakah mereka memainkan musik?
4.      Seseorang selalu berpikir di manakah mereka bercerita?
5.      Seseorang selalu berpikir di manakah tepuk tangannya?
6.      Seseorang selalu berpikir di manakah genderangnya?
Enam bahaya ketagihan berjudi:
1.      Pemenangnya akan dimusuhi.
2.      Yang kalah meratapi kekalahannya.
3.      Ia menghilangkan kekayaannya yang ada sekarang.
4.      Kata-katanya tidak dipercaya di dalam suatu perkumpulan.
5.      Ia dipandang rendah oleh teman-teman dan rekan-rekannya.
6.      Ia tidak dipilih sebagai calon yang sesuai dalam pernikahan.
Enam bahaya bergaul dengan teman-teman jahat:
1.      Dapat menjadi penjudi.
2.      Dapat menjadi orang rakus.
3.      Dapat menjadi pemabuk.
4.      Dapat menjadi penipu.
5.      Dapat menjadi seseorang yang memanfaatkan orang lain.
6.      Dapat menjadi penjahat yang kejam dan pengganggu.

Enam bahaya kemalasan yang menjadi kebiasaan, berpikir :
1.      Terlalu dingin ia tidak bekerja.
2.      Terlalu panas ia tidak bekerja.
3.      Terlalu pagi ia tidak bekerja.
4.      Terlalu larut ia tidak bekerja.
5.      Aku terlalu lapar tidak bekerja.
6.      Aku terlalu kenyang tidak bekerja.
Hubungan timbal balik dalam masyarakat. Buddha menjelaskan bahwa penghormatan terhadap enam arah dilakukan dengan memandang enam arah sebagai pelaksanaan kewajiban timbal balik kepada:
a) Ayah dan ibu sebagai arah Timur.
b) Guru sebagai arah Selatan.
c) Istri dan anak sebagai arah Barat.
d) Sahabat sebagai arah Utara.
e) Pelayan dan pembantu sebagai arah bawah.
f) Para Pertapa dan Brahmana sebagai arah atas.
Kewajiban timbal balik terhadap masyarakat
No.
Kewajiban anggota keluarga sebagai masyarakat
Contoh hak masyarakat sebagai pelaksanaan kewajiban anggota keluarga
01.

02.

03.


04.

05.
Bermurah hati
Contoh: menolong
Ramah tamah
Contoh: menyapa, memberi salam
Berbuat baik
Contoh: mengikuti kegiatan di masyarakat, menghargai perbedaan, bergotong royong.
Menjamu
Contoh : berbagi, mengundang makan
Menepati janji
Contoh : menghadiri pertemuan, ikut siskamling/rapat, menepati janji dengan tetangga.
v  Contoh : ditolong
v  Contoh : dihormati, dihargai
v  Contoh : diperlakukan dengan baik, dapat bekerja sama
v  Contoh : diundang dalam acara tertentu
v  Contoh : tidak dibohongi ketika memiliki janji


Kesimpulan
setiap orang dalam masyarakat pasti memiliki tugas dan kewajibannya masing-masing pada saat berhubungan dengan fihak lain. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, ada hal yang harus dipersiapkan yaitu pengendalian diri kita. Tanpa adanya pengendalian dan penguasaan diri sendiri, maka melaksanakan tugas dan kewajiban seperti yang dinasehatkan oleh Sang Buddha tersebut menjadi hal yang mustahil. Dalam perkembangannya, pengendalian diri ini tidaklah mudah dilakukan.  Manusia cenderung memiliki keakuan yang tinggi. Apabila keakuan tidak dapat dikuasai, maka ia tidak akan merasa lebih rendah daripada orang lain. Dengan demikian, ia tidak merasa memiliki kewajiban yang harus dilakukan kepada orang lain. Ia hanya merasa memiliki hak bahwa orang lain hendaknya melakukan kewajiban untuknya. Padahal isi Sutta Sigālaka kita seharusnya menyadari bahwa hak dan kewajiban berlaku untuk semua fihak. Bagaikan air yang selalu dapat menyesuaikan bentuk dimanapun air ditempatkan dalam wadah meskipun wadahnya berbeda namun tidak kehilangan kualitas pokoknya sebagai air sesungguhnya seperti sifat air tersebut, seseorang dalam kehidupan sehari-hari hendaknya selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa mengubah jati diri.

Dua jenis Vipassana Bhavana


Dua jenis Vipassana Bhavana
1. Samatha Pubbangama Vipassana, yaitu meditasi pandangan terang yang diawali dengan   praktik Samatha.
Secara teknik, misalnya dengan melakukan Metta Bhavana terlebih dahulu sebelum praktik Vipassana.
2. Suddha Vipassana, murni Vipassana Bhavana tanpa diawali dengan  Samatha  Bhavana.

Syarat-syarat Vipassana Bhavana

Faktor interen
Fisik
Seorang meditator harus mempersiapkan fisiknya dengan sebaik mungkin. Hal ini bisa dilakukan dengan menjaga kesehatan dan membuat kondisi badannya selalu terkondisi untuk melaksanakan meditasi.
Memiliki Kammassakatha samadhiti
Kammassakatha samadhiti yaitu penerimaan dan pemahaman yang benar mengenai perbuatan dan akibatnya. Dengan demikian seorang meditator akan selalu menjaga kemurnian silanya, yang dilalukan dengan melaksanakan samma kammanta (perbuatan benar), samma vaca (ucapan benar), dan samma ajiva (mata pencaharian benar) yang ada dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketiganya merupakan unsur sila yang menjadi landasan dari Samadhi dan Panna.


Faktor eksteren
1. Guru
Seorang meditator pemula sebaiknya memiliki seorang guru meditasi yang berpengalaman. Guru meditasi sering disebut sebagai kalyana mitta bagi seorang meditator. Ibarat seseorang yang tersesat, guru meditasi dapat diumpamakan sebagi peta.
2. Tempat
Untuk melaksanakan vipassanan bhavana, hindari tempat yang ramai, penuh dengan kesibukan sehari-hari. Tempat yang cocok adalah tempat yang tenang dan mendukung seorang meditator untuk berkonsentrasi.
3. Waktu
Sesungguhnya setiap itu baik umtuk bermeditasi. Namun waktu yang terbaik dan dianggap tepat untuk meditasi adalah pagi hari antara pukul 03.00 sampai dengan 07.00, atau sore hari antara pukul 17.00 sampai dengan 22.00.
4. Sikap
Seorang meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi, yaitu duduk, berbaring, berjalan, dan berdiri. Ambilah posisi yang enak, rileks, dan nyaman.

Teknik pelaksanaan Vipassana Bhavana

Obyek
1. Kayanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan pergerakan dan sikap serta posisi tubuh (kumpulan unsur-unsur fisik). Meditator menyadari dan memperhatikan setiap gerak-gerik tubuh yang dilakukan pada saat meditasi. Misalnya meditator menggunakan meditasi duduk, pada saat pantat menyentuh lantai maka meditator menyadarinya dan mencatat dalam hati sentuh-sentuh-sentuh-duduk-duduk
2. Vedananupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan perasaan. Meditator menyadari dan memperhatikan setiap perasaan atau sensasi yang muncul pada saat meditasi. Misalnya lelah, sakit, otot kaku, gatal, dan kram.
3. Cittanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan pikiran atau kesan.
Meditator menyadari dan memperhatikan setiap kesan yang muncul di pikiran pada saat meditasi. Misalnya bosan, malas, mengantuk, melamun, imajinasi.
4. Dhammanupassana satipatthanam, perhatian penuh pada setiap kemunculan dhamma (karakteristik dari kondisi-kondisi sifat fenomena alamiah).
Meditator menyadari dan memperhatiakan apapun yang muncul yang tidak berkenaan dengan gerakan, sensasi, dan kesan. Misalnya ketika meditator menfokuskan perhatian dan kewaspadaannya pada rasa sakit yang muncul pada saat meditasi maka disadari bahwa rasa sakit itu adalah dukkha, kemudian rasa sakit yang dirasakan secara perlahan-lahan menjadi lenyap maka disadari bahwa hal itu adalah anicca. Meditator juga menyadari bahwa tubuhnya hanya perpaduan dari berbagai unsur saja, tidak ”aku” maka hal ini disadari sebagai anatta
Sikap
Seorang meditator dapat memilih salah satu dari empat sikap meditasi (Iriyapatha Pabbam)
posisi berbaring (lying meditation)
Ada dua posisi yaitu Sang Buddha dan dengan posisi rebahan dengan terlentang.
Posisi berdiri (standing meditation)
Seorang moderator berdiri dengan posisi rileks. Seorang meditator memperhatikan posisinya dengan mencatat dalam hati berdiri (standing)-berdiri (standing)-berdiri (standing). Namun jika ada fenomena lain yang muncul, maka fenomena tersebut juga disadari.
  Posisi berjalan (walking meditation)
-  tahap 1
merupakan cara yang paling sederhana, dengan memperhatikan langkah gerak kaki yaitu mencatat dalam hati kanan katika kaki kanan melangkah kiri ketika kaki kiri melangkah demikian seterusnya.
-   tahap 2
meditator memperhatikan gerak kaki saat mengangkat dan menginjak tanah dan mencatat dalam hati angkat injak demikian seterusnya.
-   tahap 3
meditator memperhatikan tiga gerakan kaki dan mencatat dalam hati angkat gerak injak demikian seterusnya.
-  tahap 4
meditator memperhatikan empat dan mencatat dalam hati naik angkat gerak injak demikian seterusnya
-  tahap 5
Meditator memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan demikian seterusnya.
- tahap 6
Meditator memperhatikan lima dan mencatat dalam hati naik angkat gerak turun sentuh tekan demikian seterusnya.
v  Posisi duduk (sitting meditation)
Ada beberapa posisi duduk dengan kaki bersilang yang dapat dipilih oleh seorang meditator:
1)    Sikap teratai penuh seperti yang tergambar pada tulisan buddha atau buddha rupang.
2)    Dengan kaki yang satu diletakan di belakang kaki yang lain atau menyilang yang lain, sementara kakai yang ditekuk dipisah satu sama lain.
3)   Duduk pada betis dengan paha dan lutut ditekuk bersama-sama searah, seperti sekap duduk tradisi wanita Myanmar, ” disebut duduk dengan kaki setengah silang”.
Seorang meditator memperhatikan gerakan nafas di perut, dengan mencatat dalam hati kembang (rising)-kempis (falling)-kembang-kempis demikian seterusnya. Namun jika ada fenomen lain yang muncul, misalnya rasa sakit, maka fenomena tersebut juga disadari.
3. Pancabala
Pancabala atau lima kekuatan dapat diibaratkan sebagai ”senjata” bagi meditator untuk sukses dalam melaksanakan meditasi.
  • Sati, adalah perhatian murni.
Meditator mengamati semua fenomena yang timbul, brproses, kemudian lenyap pada saat meditasi apa adanya.
Dalam Maha Satipatthana Sutta dijelaskan bahwa ”bagaimanapun tubuh ini ditaruh, demikianlah dia memahaminya (yatha yatha va panassa kayo panihito hoti tatha tatha mam pajanati)”.
  •  Samadhi, adalah konsentrasi.
Meditator selalu mengarahkan pikiran pada obyek. Semakin dalam samadhi maka pikiran cenderung menjadi lebih tenang. Karena pikiran lebih tenang,maka meditator merasa lebih santai dan berakibat timbulnya rasa kantuk. Oleh karena itu samadhi harus diseimbangkan dengan memperkuat viriya. Tetapi viriya tidak boleh lebih kuat dari samadhi,  karena bisa menyebabkan meditator menjadi gelisah
  •  Viriya, dalah semangat, usaha.
Viriya muncul bila meditator memiliki tekad berdasarkan motivasi yang benar. Viriya yang terpelihara membuat meditator mampu bertahan menghadapi semua proses yang terjadi pada batin atau jasmani yang timbul dalam meditasi Vipassana.
  •  Saddha, adalah keyakinan.
Saddha adalah motivator yang mengobarkan tekad dalam meditator untuk bejuang menghadapi semua perintah dalam diri sendiri. Bila digunakan dengan bijaksana dapat membawa pada tercapainya tujuan.
Kesimpulan:
Dengan mengikuti teknik-teknik vippasana maka kita akan memperoleh hasil yang memuaskan dari melaksanakan meditasi vippasaana tersebut.


Referensi:
- Candra, Fabian. 2007. Dhammacakka edisi 47: Memahami Lebih Jauh Meditasi Vippasana Dengan Obyek Utama Kembang Kempis Perut, Hal 96. Jakarta: Yayasan Jakarta Dhammacakka
Jaya
-  Diputera oka. 2001. Meditasi 1. Jakarta: Vajra Dharma Nusantara
-  Maha Thero, Ven Weragoda Sarada. 2005. Maha Satipatthana Sutta. Klaten: Wisma Sambodhi
- Sayadaw, Y.A Mahasi. 2003. Khotbah Vippasana. Jakarta: Lembaga Satipatthana Indonesia